pengetahuan

Tanggapan Teradap Penggunaan Disinfektan Untuk Pencegahan COVID-19

Akhir-akhir ini, marak dipakai bilik disinfeksi (disinfection chamber) di sekian banyak titik kemudahan umum, bahkan di titik masuk perumahan, guna pencegahan penyebaran virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab wabah COVID-19. Penggunaan yang masif ini pun menggugah semua peneliti dari sekian banyak universitas untuk menciptakan bilik disinfeksi itu dengan motivasi yang sama, yakni berkontribusi dalam penanganan wabah yang ketika ini mesti dihadapi bersama-sama oleh negeri ini.

Upaya pencegahan penyebaran virus dengan teknik ini diadopsi di sejumlah tempat oleh masyarakat, meskipun dengan memakai alat sesederhana botol semprot. Berbagai macam cairan disinfektan yang dipakai untuk bilik disinfeksi ini diantaranya ialah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70%, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya. Berikut tanggapan kami bersangkutan situasi tersebut:

penyemprotan Disinfektan  dapat didefinisikan sebagai pemakaian bahan-bahan kimia yang bisa membunuh kuman/mikroba (bakteri, fungi, dan virus) yang ada di permukaan benda mati (non-biologis, laksana pakaian, lantai, dinding) (Centers for Disease Control and Prevention, CDC) [1]. Efektivitas dari disinfektan dievaluasi menurut masa-masa kontak atau “wet time”, yaitu waktu yang diperlukan oleh disinfektan itu untuk tetap berada dalam format cair/basah pada permukaan dan menyerahkan efek “membunuh” kuman.

Waktu kontak disinfektan lazimnya berada pada rentang 15 detik hingga 10 menit, yaitu waktu maksimal yang diputuskan oleh United States Environmental Protection Agency (EPA) [2].
Waktu kontak efektif dan fokus cairan disinfektan yang disemprotkan ke semua tubuh dalam bilik disinfeksi guna membunuh mikroba belum diketahui, lagipula waktu kontak efektif terhadap virus SARS-CoV-2. Pada konsep bilik desinfeksi, baik masa-masa kontak maupun fokus efektif akan susah dipenuhi.

EPA tidak menganjurkan pemakaian produk disinfektan yang belum teruji efikasinya bila dipakai dengan metode software lain laksana fogging, electrostatic sprayer atau penyemprotan. Hingga ketika ini, belum terdapat data ilmiah yang mengindikasikan berapa persen lokasi tubuh yang “terbasahi” cairan disinfektan dalam bilik ini serta seberapa efektif cara ini dalam “membunuh” mikroba. Ketika disinfektan disemprotkan dalam bilik ini, dapat jadi virus malah menyebar ke lokasi yang tidak terbasahi oleh cairan ini. Hal ini bisa membahayakan pemakai bilik selanjutnya andai ada virus yang “tersisa” di dalam bilik dan tercium pemakai tersebut.

World Health Organization (WHO) tidak menganjurkan pemakaian alkohol dan klorin ke semua permukaan tubuh sebab akan membahayakan pakaian dan membran mukosa tubuh laksana mata dan mulut [3]. Penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Network Open Oktober 2019 mengejar bahwa sejumlah 73.262 perawat perempuan yang teratur tiap minggu memakai disinfektan untuk mencuci permukaan alat-alat medis berisiko lebih tinggi mengalami kehancuran paru-paru kronik [4].
Inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat menyebabkan iritasi parah pada drainase pernafasan (WHO) [5].

Penggunaan larutan hipoklorit pada fokus rendah secara terus menerus dalam jangka masa-masa lama dapat menyebabkan iritasi kulit dan kehancuran pada kulit. Dan pemakaiannya pada fokus tinggi dapat menyebabkan kulit terbakar parah. Walaupun data masih terbatas, inhalasi hipoklorit (OCl–) dapat memunculkan efek iritasi enteng pada drainase pernafasan [6].

Penggunaan electrolyzed salt water sebagai disinfektan pada bilik disinfeksi, mempunyai mekanisme dasar menghasilkan klorin sebagai disinfektan. Efek samping yang hadir akan sama laksana poin 4 dan 5. Sejauh ini, potensi pemakaian electrolyzed salt water guna menginaktivasi virus, yang dipublikasikan pada Journal of Veterinary Medical Science, ditentukan dengan mencampurkan virus dengan air [7], sampai-sampai waktu kontak juga dominan pada efektivitas inaktivasinya.

Kloroksilenol (bahan aktif cairan antiseptik komersial) yang juga dipakai sebagai di antara disinfektan guna bilik disinfeksi dapat menambah resiko tertelan atau secara tidak sengaja terhirup. Studi pada fauna menunjukan bahwa kloroksilenol mengakibatkan iritasi kulit enteng dan iritasi mata parah. Kematian terjadi pada takaran tinggi (EPA) [8]. Studi medis yang dilaksanakan di Hong Kong, dimana melibatkan 177 permasalahan keracunan cairan antiseptik komersial yang berisi kloroksilenol, mengindikasikan komplikasi serius pada 7% pasien sampai terjadinya kematian [9].

Penyemprotan disinfektan ke tubuh manusia, udara, dan jalan raya di anggap tidak efektif. Di samping itu, pemakaian berlebihan disinfektan berpotensi memunculkan bahaya untuk kesehatan dan lingkungan [10]. Salah satunya ialah timbulnya resistensi, baik resistensi bakteri ataupun virus terutama bilamana disinfektan tidak dipakai pada fokus idealnya.

Perlu studi lebih lanjut dalam pemilihan disinfektan yang aman dan efektif guna bilik disinfeksi, menilik dengan teknik ini memungkinkan terjadinya kontak antara cairan disinfektan dengan kulit, mata dan bisa terhirup.Pengawasan pihak berhubungan dalam sebuah aturan/pedoman menjadi sangat urgen untuk mengurangi efek bahaya dari disinfektan terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Jika disinfektan semprot memang terbukti aman dan efektif secara ilmiah, pendidikan lain yang perlu dikatakan kepada masyarakat ialah bilik disinfeksi ini hanya bermanfaat untuk mencuci permukaan tubuh atau pakaian saja (mengurangi jumlah mikroba) dan tidak menyembuhkan pasien yang sudah terjangkit virus corona atau andai virus telah masuk ke dalam tubuh orang tersebut. Masyarakat mesti tetap berupaya untuk menangkal pemaparan virus SARS-CoV-2 cocok dengan poin 12.

Solusi aman guna pencegahan deskripsi virus SARS-CoV-2 ketika ini cocok rekomendasi WHO ialah dengan cuci tangan memakai sabun (minimal 20 detik), mandi serta mengubah pakaian sesudah melakukan kegiatan dari luar atau dari lokasi yang terinfeksi tinggi, serta merealisasikan physical distancing (minimal 1 meter).

Leave a Comment

Item added to cart.
0 items - £0.00